RUSA TIMOR (Cervus timorensis)


Rusa Timor jantan dewasa di Kampung 99 Pepohonan

A. Biologi Rusa Jawa

1.   Klasifikasi
Rusa Jawa (Cervus timorensis russa) diklasifilasikan oleh Schroder (Nugroho, 1992) sebagai berikut :
Phyllum : Vertebrata
Sub phyllum : Chordata
Class : Mammalia
Ordo : Artiodactyla
Familia : Cervidae
Genus : Cervus
Species : Cervus timorensis (Blainville, 1822)
Sub species : Cervus timorensis russa (Mul.&Schl., 1844)
(Ind = Rusa Jawa)

2.   Deskripsi Morfologi
Jenis Cervus timorensis, menurut Dradjat (2002a), memiliki bulu coklat dengan warna bagian bawah perut dan ekor berwarna putih. Hewan jantan relatif lebih besar dibandingkan dengan betinanya. Tinggi badannya antara 91-102 cm dengan berat badan 103-155 kg. Rusa jantan mempunyai tanduk yang bercabang. Tanduk akan tumbuh pertama kali pada anak jantan umur 8 bulan. Setelah dewasa, ranggah menjadi sempurna yang ditandai dengan terdapatnya 3 ujung runcing.

3.   Penyebaran
Cervus timorensis tersebar alami hampir di seluruh kepulauan Indonesia kecuali di Sumatera, Kalimantan, dan Irian Jaya. Namun kemudian dimasukkan ke pulau-pulau tersebut yaitu pada tahun 1680 (Kalimantan), tahun 1855 (Pulau Aru), tahun 1913 dan 1920 (Kalimantan) (Anonim, 1978). Oleh karena rusa mampu beradaptasi dengan baik, maka dapat berkembang biak di tempat barunya tersebut.
Veevers-Carter (1979) mengemukakan bahwa Cervus timorensis tidak ditemukan secara endemik di luar Indonesia, namun telah dimasukkan dalam jumlah yang besar ke New Zaeland, Australia, dan W. Indian Ocean Is.
Menurut Semiadi (2002), dominasi rusa tropik Indonesia adalah Cervus timorensis, dengan sebaran yang sangat luas dari bagian barat hingga timur Indonesia. Whitehead (Schroder dalam Nugroho, 1992; Semiadi, 2002) membagi jenis Cervus timorensis menjadi 8 sub species berdasarkan daerah persebarannya, yaitu:
• Cervus timorensis russa (Mul.&Schl., 1844) di P. Jawa
• Cervus timorensis florensis (Heude, 1896) di P. Lombok dan P. Flores
• Cervus timorensis timorensis (Martens, 1936) di P. Timor, P. Rate, P. Semau, P. Kambing, P. Alor, dan P. Pantai
• Cervus timorensis djonga (Bemmel, 1949) di P. Muna dan P. Buton
• Cervus timorensis molucensis (Q.&G.,1896) di Kep. Maluku, P. Halmahera, P. Banda, dan P. Seram
• Cervus timorensis macassaricus (Heude, 1896) di P. Sulawesi
• Cervus timorensis renschi (Sody, 1933)
• Cervus timorensis laronesietes (Bemmel, 1949)

4.   Aktivitas
Rusa memiliki aktivitas pergerakan dan penjelajahan yang terpengaruh oleh 2 aspek, yaitu rutinitas harian yang berkaitan dengan mencari makanan, air, dan tempat istirahat yang sesuai, dan aspek musiman yang berkaitan dengan iklim setempat (Trippensee, 1948). Selanjutnya Trippensee (1948) menjelaskan bahwa pada suatu saat rusa dapat bergerak aktif dengan menempuh perjalanan yang sangat jauh, namun pada kondisi iklim yang buruk rusa akan bergerak sangat terbatas.
Jenis Cervus timorensis merupakan hewan yang dapat aktif di siang hari (diurnal) maupun di malam hari (nokturnal), tergantung pada kondisi lingkungannya (Anonim, 1978).

B. Home Range

Menurut Dasmann (1981), ukuran home range rusa berbeda-beda tergantung ketersediaan makanan, penutupan (cover), air, dan hal-hal penting lain.

C. Habitat

Satwa liar menempati habitat sesuai dengan lingkungan yang diperlukan untuk mendukung kehidupannya. Shaw (Nugroho, 1992) menjelaskan bahwa komponen habitat yang mengendalikan kehidupan satwa liar terbagi dalam 4 hal sebagai berikut:
1. Pakan (food)
2. Pelindung (cover)
3. Air (water)
4. Ruang (space)

Rusa Jawa memiliki tipe habitat berupa hutan dataran terbuka, padang rumput, dan savana dengan ketinggian hingga 2.600 dpl (Anonim, 1978). Menurut Dradjat (2002a), selain padang rumput, rusa juga membutuhkan semak-semak untuk berlindung, pepohonan untuk berteduh, dan adanya persediaan air untuk mencukupi kebutuhan minum. Rusa juga memanfaatkan kawasan dengan kerapatan tumbuhan yang relatif tinggi seperti di sekitar sungai atau anak sungai (Djuwantoko, 2003).

D. Pakan

Rusa termasuk hewan pemamah biak (ruminant) yang makanannya adalah daun-daunan (vagetable materials) dan berbagai macam buah-buahan yang dapat dimakan (Trippensee, 1948). Sebagaimana hewan pemamah biak lainnya, rusa makan rumput di padang rumput (grazing), makan daun-daunan semak di hutan (browsing), dan makan jamur yang tumbuh di bawah pohon (Dradjat, 2002a). Rusa makan dari bagian tumbuhan mulai dari pucuk kemudian daun muda, daun tua, dan batang muda.

Terdapat 23 jenis tumbuhan yang dimakan rusa, terdiri atas 12 familia. Jenis-jenis tumbuhan dari Familia Gramineae terlihat mendominasi daftar tumbuhan yang dimakan rusa. Bagian-bagian tumbuhan yang dimakan antara lain pucuk, daun, kuncup, dan buah. Rusa Jawa memakan berbagai jenis tumbuhan tersebut pada empat tipe habitat yang ada, antara lain: hutan monsoon, hutan terbuka, padang rumput, serta kali dan rawa.
Selain makan, rusa membutuhkan minum dalam jumlah yang relatif banyak. Bila cuaca kering dan udara panas, rusa membutuhkan minum sampai 0,5 galon/hari/ekor (Dradjat, 2002). Pada kondisi itu pula rusa sering berkubang. Dradjat (2002) juga menjelaskan bahwa rusa juga pandai berenang sehingga sungai bukan merupakan penghalang bagi rusa. Menurut Djuwantoko (2003), rusa yang hidup di alam akan mendapatkan air dari sumber air permukaan, seperti air sungai, danau, waduk, parit, atau mata air. Kemungkinan lain, mereka akan mendapatkan air dari embun atau memakan pakan yang mengandung banyak air.

(sumber : www.rusaindonesia.blogspot.com )


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *