Sejarah

Abi Eddy Jamaludin Suaidy
Abi Eddy Jamaludin Suaidy

Sekilas Perjalanan Kampung99Pepohonan

Sekitar 20 tahun silam, seseorang yang tinggal di bilangan Cilandak, Jakarta Selatan, mencuci mobilnya yang berwarna putih pada malam hari dan betapa terkejutnya beliau demi melihat kap mobil putihnya menjadi hitam penuh debu dan berminyak pada keesokan harinya. Terpikir olehnya, inilah udara yang dihirup setiap hari olehnya, keluarga dan orang-orang yang ada di sekelilingnya. Sejak saat itu bertekadlah beliau untuk mencari sebuah tempat untuk menuangkan konsep sehat. Beliau adalah Eddy Djamaluddin Suaidy, yang akrab dipanggil Abi. Prinsip ini yang kemudian dikembangkan menjadi budaya yang diterapkan dalam satu kawasan hunian yang disebut Kampung 99 Pepohonan.

Tahun 1989, Abi dan keluarga membeli tanah seluas 500m2 di pinggir sungai irigasi di kawasan Meruyung, Limo, Depok. Sebidang tanah yang awalnya digunakan sebagai pembuangan sampah masyarakat setempat selama bertahun-tahun. Satu hal yang juga menarik perhatian Abi adalah di lahan tersebut terdapat 5 pohon Rengas besar berusia puluhan tahun, sehingga suasana menjadi sangat teduh dan rindang. Sampai saat ini pohon tersebut masih kokoh berdiri dan terawat dengan baik.

Di pinggir sungai inilah, Abi mengawali budaya kebersamaan dan kekeluargaan. Kegiatan mulai dari pengerukan sampah, penimbunan kakus cemplung menjadi tanah padat, penanaman pohon di atas lahan dan pinggir sungai, membuat turap pinggir sungai supaya tidak erosi, kesemuanya dilakukan secara bersama-sama/gotong royong. Inilah Cikal Bakal Kampung 99 Pepohonan.

Pada tahun 1998, di atas tanah tersebut dibangun rumah kayu bergaya Tomohon. Setahun setelah itu, Abi beserta tiga kepala keluarga yang berniat untuk tinggal bersama, menjual beberapa koleksi motor gede antiknya untuk membebaskan areal lahan kritis di sepanjang pinggiran sungai Pesanggrahan. Selama ini areal tersebut dimanfaatkan sebagai daerah pertanian. Sayangnya, areal tersebut sudah terkontaminasi pestisida seluas 1.5 Ha. Abi beserta keluarga secara bersama-sama berusaha mengembalikan kesuburan tanah di areal ini.

Tahun 2005 terjadi banjir besar di Jakarta sehingga terjadi erosi yang menyebabkan lahan kritis tadi menjadi semakin memprihatinkan.

Keluarga-keluarga yang sudah bergabung segera berkumpul dan berembuk agar areal lahan kritis ditanami oleh tanaman2 keras (pohon). Dan diputuskan pohon-pohon yang ditanam adalah pohon jati putih, jati, beringin, rengas, bintaro, damar, mahoni, kayu manis, kayu putih, kopo, trembesi, sonokeling, ketapang, kirai, karet, maja, eboni, rotan, nyamplung, puspa, putat, rembang serta beragam pohon keras lainnya.

Saluran air tetap dipertahankan mengalir dari saluran irigasi. Terbukti setelah beberapa tahun tanaman tersebut dapat tumbuh dengan baik dan berdampak besar terhadap lingkungannya. Areal lahan yang sebelumnya bersuhu 35°C, sekarang suhu menjadi sejuk sekitar 28-30 °C dan lahan menjadi subur normal kembali sehingga dapat ditanami lagi, tidak banjir dan longsor.

Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya keluarga yang bergabung untuk tinggal bersama, maka areal tanah bertambah dan hingga saat ini mencapai 5 Ha.

-Kampung99Pepohonan-

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *